Iman yang Sempurna, Menurut Kitab Lubabul Hadits

{[["☆","★"]]}

KUDUS, manu-miffa.sch.id - Dalam kegiatan Ngaji Posonan di MA NU Miftahul Falah dengan membahas Kitab Lubabul Hadits. Kyai Anas Alawie menjelaskan bahwa iman adalah perbuatan batin atau hati yang tidak dapat dipisahkan dari Islam dan ikhsan, pada Rabu (12/03/25). 

Berikut ini hasil ringkasan pembahasan Kitab Lubabul Hadits mengenai Iman : 

Iman adalah perbuatan batin atau hati. Tiga hal, yaitu iman, Islam, dan ikhsan, tidak dapat dipisahkan. Sejatinya, iman itu sesuatu yang telanjang. Pakaian untuk menutupi adalah takwa yang muncul untuk membersihkan hati. Perbuatan-perbuatan fisik, seperti shalat, zakat, dan puasa, akan menuju ke perbuatan batin sebagai pembersihan hati yang bisa melebur dosa-dosa.

Lalu, yang mempercantik iman adalah rasa malu ketika melanggar perintah Allah. Rasa malu ketika melanggar syariat, rasa malu ketika melakukan maksiat. Buah dari iman adalah ilmu yang disertai amal. Iman bagi orang yang bisa diberi amanat. Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang khianat.

Dawuh Kanjeng Nabi, tidak dapat dikatakan iman jika tidak mampu mencintai dirinya sendiri. Maka kita akan berusaha menjaga diri agar terhindar dari mara bahaya. Nah, seperti halnya kita menjaga diri sendiri, kita juga harus mencintai saudara kita sesama muslim. Jika kita belum bisa mencintai saudara sesama muslim, maka iman kita belum sempurna.

*Mewujudkan Kesempurnaan Iman* 

Iman akan sempurna jika menyempurnakan sesuatu yang wajib (fardhu) dan kesunahan. Iman akan rusak jika kita mengingkari kewajiban dan kesunahan. Barang siapa yang ingkar, maka akan disiksa, dan barang siapa yang menjaga kewajiban dan kesunahan, maka baginya surga. Jadi, kesempurnaan iman itu tergantung pada bagaimana kita menjaga kewajiban dan kesunahan.

Iman ibarat tanaman yang akan tumbuh dan berkembang jika kita rawat dan kita pupuk. Sementara jika kita biarkan, akan mati. Kanjeng Nabi bersabda bahwa iman tidak tambah dan tidak kurang, maksudnya ketika kita sudah percaya atau meyakini sesuatu, maka tidak akan berubah. Akan tetapi, iman ada batasan-batasannya atau tingkatannya. Misalnya, kita menjalankan rukun Islam, maka keimanan kita akan sempurna, keshalihan kita bertambah, kebaikan kita juga bertambah.

Sebaliknya, jika kita meyakini tetapi tidak menjalankan perintah, maka keimanan kita tidak sempurna, tidak bertambah kebaikan kita, juga keshalihan kita. Syaikh Abdul Qodir Jailani menjelaskan bahwa orang akan sempurna imannya jika mampu mengembangkan cabang-cabang keimanan.

Dawuh Kanjeng Nabi, iman itu perpaduan dari sabar dan syukur. Sabar ada tiga, yaitu sabar ketika melakukan ketaatan, sabar ketika dapat musibah, sabar ketika menjauhi maksiat. Tentu saja kita sebagai manusia harus ikhtiar dan berusaha untuk mewujudkan kesempurnaan iman kita.

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda bahwa iman adalah sebuah batasan atau sesuatu yang menghalangi seorang mukmin dibunuh atau dibinasakan. Oleh sebab iman, seseorang akan terhindar dari pembunuhan.

Allah Sudah menciptakan iman dan memperindah atau mempercantik iman dengan  dermawan dan rasa malu. Orang yang beriman memiliki sifat dermawan karena sesungguhnya orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga.

Allah menciptakan kufur  dengan sifat pelit, kikir, bakhil, dan durhaka. Sifat yang demikian jauh dari Allah dan dekat dengan neraka. Sedangkan orang yang durhaka kepada orang tua, Allah akan memberi  azab di dunia, tidak menunggu hizab di akhirat.

Ketika ahli surga telah masuk ke surga dan ahli neraka sudah masuk ke neraka, maka Allah memerintahkan untuk mengeluarkan orang-orang yang masih memiliki iman dari neraka.




Redaksi El Miffa

Posting Komentar

0 Komentar